SMA PANGUDI LUHUR II SERVASIUS BEKASI
SMA Pangudi Luhur II Servasius - Jl. Kampung Sawah Bekasi 17431 - Indonesia  Telp. (021) 84593324/25 Fax. (021) 84593326
Selasa, 26 September 2017  - 3 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


30.03.2017 11:16:38 134x dibaca.
ARTIKEL
MERASAKAN YANG TAK ADA

MERASAKAN YANG TAK ADA

Karya : Yoel Andriza

            Tidak semua orang mampu untuk melalui suatu fase gelombang krusial yang bias mempengaruhi karakter seseorang bahkan merubah pola pandang terhadap sudut dimensial berbeda. Itulah yang saya alami memasuki lingkungan yang baru dan perjalanan yang berintang. Tapi bukan suatu kendala bagi saya melewati semua itu. Saya pun bersyukur memiliki karakter dan pandangan yang sudah terarah berkat kedua orang tua saya, termasuk didikan keluarga saya sewaktu kecil. Pernahkah anda sekalian berpikir untuk masuk dalam gua yang sangat gelap, walaupun di dalamnya terdapat sebongkah berlian berkilau? Maka, itulah sensasi live in yang baru dalam kamus hidup saya.

            Masa itu tidak hanya saya seorang diri yang mengadaptasikan diri dengan alam bernuansa kedamaian, tapi semua anak turut ikut dalam memompa kemampuan beradaptasi mereka. Namun bagi saya sangat disayangkan bahwa banyak anak yang tidak mengerti sebuah nilai akan kesopanan, tata karma, bahkan tatanan sosialistik yang tertanam dalam lingkungan di mana kami ditempatkan. Secara cepat, saya menyadari bahwa masa itu memang mengubahkan sebagian saya yang terlampau jauh dibandingkan masyarakat di sana. Bagaimana tidak, unsur terpenting dalam menyatukan adalah menggunakan keterikatan emosi dan koneksi terbuka dari setiap kita.          

            Perjalanan kami tempuh selama hampir 24 jam, hanya menyisakan keluhan lara. “Hmm..mmm, masih ngantuk Pak.....” dan juga terucap kalimat “Dingin banget Bu, enggak kuat....” terlebih parah muncul kalimat “Kok rumahnya kayak gini sih, mana bisa tidur kali...” . Begitu banyak untaian kalimat yang terlafalkan begitu jelas dari banyak anak kepada guru-guru kami. Saya sendiri hanya bisa menikmatinya dengan ketenangan jiwa, karna lingkungan seperti ini adalah kampung halaman saya sewaktu kecil. Tak perlu cemas lagi untuk terjun dalam medan pergelutan antara keinginan tubuh untuk merasakan kenyamanan tiada tara dan jiwa yang memaksakan untuk menerima setiap keputusan sekolah.

            Tepat pukul 08.15, truk kami sampai di tanah Gantang. Perjalanan cukup terjal dan memakan habis jalanan sejauh 4-5 km tersebut. Silir-semilir angin yang menerjang dan polesan hawa pedesaan jadi makanan pagi saya di daerah Gantang. Belum begitu lama, bertemulah saya dengan Bu Warno yang menjadi orang tua asuh saya. Beliau terlihat begitu ramah bagi saya, tapi entah bagaimana pendapat Arya terhadapnya. Aryalah yang jadi teman satu atap saya. Beliau hidup di bawah sotoh rumah yang sangat sederhana, begitu sederhana sampai-sampai hal itu mengingatkan saya akan betapa beruntungnya saya bisa tinggal dalam rumah yang sebagaimana disebutkan orang sebagai layaknya rumah. Merefleksikan hal tersebut bukanlah pilihan pertama saya setibanya di sana.

            Sempat saya bertanya-tanya dimana keluarga Bu Warno karna kondisi rumah yang begitu sepi, hanya ada Bu Warno dan kedua cucunya. Secepat kilat batin saya bertanya “Apakah beliau hidup sebatang kara beserta kedua anaknya?”. Hanya itu yang terlontar dalam benak saya, bahkan saat itupun saya berpikiran bahwa kedua cucunya yang saya lihat saat pertama kali menginjakkan kaki di sana adalah anaknya padahal pada kenyataanya adalah kedua cucunya. “Njeh masuk sini mas”, terdengar kata dari Bu Warno. Saya hanya bisa menjawab dengan senyum dan anggukan kepala. Saya diantarkan menuju ke kamar yang seadanya dengan beralaskan matras kasur tipis yang nantinya jadi singahsana tubuh saya.

            Baru saja menarik udara Gantang ke dalam paru-paru, saya dan Arya  ditawarkan untuk makan terlebih dahulu. Padahal perut masih berkata “tidak mampu” menampung makanan lagi karna pagi tadi saya sudah melahap nasi kuning di Paroki. Tapi mau bagaimana lagi, beliau tetap memaksa dan dorongan rasa tidak enak terbang keluar lewat kalimat “Baik Bu”. Membuka tutup saji memacu adrenalin saya dan Arya, ekspektasi saya menandakan bahwa akan memakan makanan seperti tahu, tempe, atau pindang. Namun tutup saji membukakan rahasia kenikmatan yang tersembunyi di bawahnya. Bu Warno ternyata menyuguhkan lauk layaknya masakan di Jakarta, tidak ada bedanya dari : ayam kecap, mie, telur dadar, opor, dan kerupuk.

             “Wah serasa makan di restoran padang”, pikir saya. Tak habis pikir bahwa ternyata beliau menyandingkan lauk sebanyak itu, bahkan ketika saya di Jakarta pun mama saya tidak akan memasak lauk sebanyak itu. Sungguh takjub dengan keajaiban makanan di depan mata saya. Arya juga bergumam sendiri saat membuka tutup sajinya. Bahkan Bu Warno masih sempat-sempatnya berkata “Monggo dimakan mas, maaf lauknya sedikit.” Beliau begitu supel di mata saya, bahkan dengan alunan nada kerendahan hatinya itu tidak mampu saya pungkiri bahwa tidak ada yang seperti itu di masyarakat Jakarta.  

            Setelah makan, saya dan Arya hanya duduk santai di depan televisi kecil dengan antena. Bola mata saya tak kunjung berhenti memandangi sekeliling rumahnya. Tanpa ubin, dan atap rumah yang bolong, kamar mandi yang terbuka, bahkan debu dan kotoran berserakan jadi pemandangan pertama saya. Seperti seorang bayi yang baru beranjak satu tahun dan menatap dunia dengan penuh keheranan, itulah saya di sana. Satu momen, saat itu saya bertanya pada Bu Warno sekardus tanaman kecil di sebelah kiri saya, dan beliau menjawab bahwa itu tanaman cabai, malahan saya diajak langsung berladang. Saya dan Arya sempat pandang memandang akan tawaran beliau. Mau tidak mau memang harus mau membantu beliau.

            Saya kira bahwa perjalanan ke ladang begitu dekat dengan rumah, namun nyatanya saya harus menempuh jarak yang dihitung mencapai 1,5 km jauhnya. Jalan yang dilalui sangat-sangat terjal dan harus berhati-hati untuk melangkahkan kaki. Jalannya hanya satu dan setapak, sehingga hanya muat dilewati oleh 2 orang berjalan berdampingan. Menanam cabai bukanlah keahlian seorang pelajar anak Jakarta seperti saya, namun dengan kesabaran hatinya beliau membimbing saya dan Arya cara menanam cabai dengan benar. Di ladang, kami bertemu dengan anak pertama dari Bu Warno, mas Wardi. Dialah ayah dari kedua anak kecil yang sedari tadi saya temukan bersama Bu Warno di rumahnya.

            “Brrrr....” Sensasi baru ketika saya berada di sana. Begitu banyak binatang yang cukup menyeramkan bagi saya, seperti laba-laba dan banyak lainnya yang saya tak pernah temukan di Jakarta. Terik matahari membakar kulit saya hingga berwarna lebih gelap. Cukup menyiksa ketika menanam cabai tepat di tengah siang bolong, untungnya saja mas Wardi menawarkan saya untuk istirahat dan kembali ke rumah. Hari itu pun saya akhiri dengan beristirahat di kamar karena begitu lelahnya menjalani masa pertama dari 5 hari panjangnya perjalanan live in tahun ini.

            Keesokannya saya terbangun sangat siang, pukul 9 pagi. Gelapnya rumah dipagi hari membuat saya berpikir bahwa hari itu masih cukup pagi benar untuk melakukan aktivitas. Jam tangan saya ambil dan jantung saya berdetak mulai cepat karna menyadari bahwa matahari sudah mulai terbit pada posisinya. Saya dan Arya mencari-cari orang di rumah, namun tak seorangpun kami temukan jejaknya. Saya putuskan untuk berjalan-jalan dengan teman-teman saya yaitu Viant, Arya, Arvin, Anton, Fidel, dan Khrisna. Kami menyusuri jalan ke atas mencari keberadaan sungai di sana, namun tak kami temukan.

            Tak selesai sampai di situ, kami lanjutkan perjalanan dengan beralaskan sandal jepit saja. Jalan yang kami lalui menanjak begitu tinggi, hingga sampai pada titik tertingginya tidak ada orang lalu-lalang yang terlihat. Kondisi jalan makin kecil, kami pun sempat bertanya pada seorang ibu disana, bahwa di atas sana masih ada desa Moan. Kami putuskan terus menanjak, untuk mencari pemandangan gunung karena tidak ada sungai dan air terjun di sana. Cucuran keringat terus menetes dan hawa panas mulai menyelimuti kami semua, pukul 12 siang tepat matahari berada di atas kepala dan kami baru sampai, dimana hanya sebuah jurang di sisi kiri dan ladang di sisi kanan.

            Perjalanan diteruskan hingga kami menginjakkan kaki di persemayaman Moan. Warga di sana bahkan menyambut kedatangan kami dengan hangat, bahkan tidak seorang pun memandang kami seperti orang asing yang berkunjung. “Monggo, pinarak mas”, kata itulah yang tersantunkan dengan tulus hati. Tapi karna tempatnya kurang menanjak, kami pun melanjutkan perjalanan ke atas, keluar dari desa Moan. Kami sempat bertemu dengan seorang petani di sana yang memberitahu bahwa untuk mencari pemandangan gunung yang indah harus naik lagi ke atas. Kaki saya mulai mengalami lecet yang cukup perih ketika terkena air padahal perjalanan setapak masih panjang.

            Satu jam kemudian, kami sampai di atas di mana sudah tidak ada lagi jalan setapak yang sanggup dilewati. Kalaupun mau lewat, itu artinya harus menembus pohon-pohon dan tanaman di sana. Itulah spot terakhir yang kami ambil untuk berfoto dan mengambil pemandangan gunung dari atas bukit. Sangat seram untuk melihat ke bawah karena di samping kanan kami jurang yang begitu dalam. Puas dengan video, foto, dan panorama yang didapat, kami turun dengan hati-hati dan sampai kembali di Gantang pukul 3 sore kurang lebih. Saya ambil langkah kaki menuju ke rumah dan masih tidak ada orang di rumah, saya istirahatkan badan sejenak.

            Pukul 5 sore semua anggota keluarga sudah pulang, termasuk pula Pak Warno yang kemunculannya menjawab semua pertanyaan batin saya. Saya dan Arya berbicara santai dan bersanda gurau dengan mereka hingga malam. Itulah pengalaman yang tak akan saya lupakan. Bagi saya rumah bukanlah sebuah rumah ketika tidak ada cahaya kemurniaan dari keluarga di sana. Tapi di sanalah saya juga temukan kehangatan cahaya keluarga tersebut. Apa artinya sebuah rumah mewah tanpa adanya kehidupan yang menaungi nuansa keharmonisan simphoni jiwa tanpa keluarga? Apa faedahnya memiliki keluarga tanpa rumah yang memadai? Justru di sanalah, kita dapat temukan kesatuan nada yang tercipta lewat tempo dan melodi dari setiap anggota keluarga yang membentuk paduan suara dan orkestra yang membangkitkan gairah jiwa yang terpendam.

            Hari berikutnya hanyalah hal biasa bagi saya, tidak ada pengalaman baru yang saya bisa torehkan dalam kamus hidup saya. Memasuki hari terakhir, momen yang memisahkan saya dan keluarga pengasuh saya, membawa keceriaan dan ingatan akan hari yang telah berlalu tanpa sedetik pun tak diungkapkan oleh bibir setiap kami. Keterbukaan adalah awal dan akhir dalam penempuhan adaptasi dan masa penyesuaian dengan lingkungan yang lampau. Saya bersukacita bisa membawa pulang banyak hal berharga yang pastinya orang Jakarta tak bisa miliki, termasuk dalam gaya hidup yang sederhana adanya.

            Di hari yang bersamaan, kegembiraan saya tak mampu saya tutupi lagi untuk segera berlari dan mengelilingi candi Borobudur yang ingin saya lakukan sedari dulu. Namun apa daya, menginjakkan kaki di salah satu 7 keajaiban dunia yang ada, saya hanya mendapatkan kerumunan manusia yang meludak-ludak memenuhi kemegahan candi Borobudur. Saya hanya duduk di bawah pohon rindang dan menikmati pemandangan dari saya sampai habis waktunya dan melanjutkan perjalanan menuju Malioboro.

            Ya, kampung halaman saya selama 6 tahun, The Beautiful City of Jogjakarta. Kembali merasakan jalanan Maliboro serasa kembali ke masa lalu menggunakan mesin waktu. Mengalami perubahan yang signifikan di setiap mukanya tak membingungkan saya untuk menemukan tempat berbelanja yang berkualitas di sana. Terkenal dengan daya tariknya sebagai pusat wisata menjadikan Malioboro sebagai ajang perbelanjaan terlengkap di Jogja, apapun yang anda cari akan anda temukan di sana. Tak lupa, saya pun membeli sedikit oleh-oleh untuk keluarga saya. Memiliki keluarga asuh tidak membuat saya melupakan keluarga saya tercinta di Jakarta.

            Pengalaman menarik akan selalu diakhiri dengan ingatan yang baik. Pelajaran berharga akan menjadikan kita makin bersahaja. Identitas baru bukanlah sosok yang harus kita tutupi dengan topeng masa lalu. Maka, mulailah mempelajari setiap momen bernilai yang harus kita cermati dengan mata, hati, dan telinga hingga mewujudkan pesona warna dalam dunia kita. Itulah pelajaran dan pengalaman berharga saya selama 6 hari menempuh masa duplikasi dari masa yang akan datang.








^:^ : IP 54.158.248.167 : 2 ms   
SMA PANGUDI LUHUR II SERVASIUS BEKASI
 © 2017  http://smaplservasius-jkt.pangudiluhur.org/