SMA PANGUDI LUHUR II SERVASIUS BEKASI
SMA Pangudi Luhur II Servasius - Jl. Kampung Sawah Bekasi 17431 - Indonesia  Telp. (021) 84593324/25 Fax. (021) 84593326
Rabu, 16 Oktober 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


26.11.2015 08:07:12 1911x dibaca.
ARTIKEL
BERSYUKUR ATAS PERJUANGAN PARA BRUDER FIC PENDAHULU

Pada tanggal 20 September 1920, 95 tahun yang lalu, lima bruder perintis Provinsi FIC Indonesia, yaitu Br. Constant, Br. Lebuinus, Br. August, Br. Eufratius dan Br. Ivo. Kelima bruder tersebut mengabdikan diri bagi perintisan kerasulan di Hindia Belanda (Indonesia) dengan penuh semangat. Mereka meninggalkan kenyamanan dan kemapanan gaya hidup Eropa dan memulai dengan serba terbatas di Yogyakarta.

“Tanpa persiapan khusus atas tugas yang baru, tanpa melihat dengan jelas sistem bagaimanakah yang di dalamnya mereka akan berfungsi, tanpa mengerti bahasa Jawa, dengan pengetahuan sedikit sekali mengenai kultur Jawa, sesudah berjalan dari Nederland ke Hindia Belnda selama satu bulan, cuma dua tiga hari sesudah masuk kota dan lingkungan yang sama sekali asing, misionaris atau perintis pertama mulai bekarja pada sekolah yang masih jauh dari sempurna menurut ukuran Belanda. Pasti: minggu-minggu permulaan cukup berat. ... Tentu saja, keinsafan bahwa mereka menjadi pelopor, misionaris pertama, menimbulkan semangat yang berkobar sehingga mereka mudah dapat mengatasi macam-macam rintangan. Tetapi pastilah mereka mengalami beratnya.

Berkobarnya semangat lima bruder perintis Provinsi Indonesia ditularkan ke banyak bruder misionaris Belanda yang ambil bagian dalam sejarah provinsi.

Selama 95 tahun perjalanan provinsi, ada 114 bruder misionaris Belanda yang pernah berkarya di Indonesia, 3 dari 114 bruder tersebut masih dianugerahi rahmat kesehatan yang baik, yaitu Br. Humbertus Willemsen (Komunitas Overkant – Maastricht), Br. Jos Berkemeijer (Komunitas Emmaus – Maastricht), dan Br. Wilhelm Leensen (Komunitas Muntilan). Kesaksian hidup para bruder misionaris menarik para pemuda Indonesia untuk bergabung dengan kongregasi. Br. Joachim menjelaskan, “Rupanya misionaris pertama, Br. August dan teman-temannya, mengadakan usaha khusus untuk menarik panggilan kepada kongregasi FIC. Usaha mereka cepat berhasil karena dalam tahun 1924 – jadi 4 tahun sesudah kedatangan misionaris pertama – Br. Aloysius Sugiardjo dan Br. Jacobus Hendrowarsito mengikrarkan kaul pertama di Maastricht. Dalam tahun 1926 Br. Timotheus Wignjasubrata menyusul, kemudian dalam tahun 1930 Br. Petrus Claver Atmasujitna. Mereka semuanya menerima pendidikan novisiat di Maastricht. Mereka hanya menerima pendidikan religius di Nederland karena sebelum berangkat ke Eropa mereka sudah mempunyai ijazah guru”. Sampai dengan awal September 2015, ada 37 bruder Indonesia yang sudah mendahului menuju surga, yang telah mewarnai harumnya perjalanan provinsi, yang meninggalkan banyak kenangan untuk diteruskan oleh generasi penerus kongregasi.
Mengenang 95 tahun hadirnya lima bruder perintis di Yogyakarta merupakan kesempatan emas bagi para Bruder FIC untuk bersyukur atas perjuangan para bruder pendahulu. Mereka, baik misionaris Belanda maupun para bruder asal Indonesia, berusaha mewujudkan cita-cita Mgr. Louis Rutten dan Br. Bernardus Hoecken melalui pendidikan dan pembinaan kristiani dengan tujuan demi keselamatan jiwa-jiwa (bdk Louis Hubertus Rutten Proyek dan Autobiografinya, halaman 7). Usaha para bruder pendahulu diterima dan diakui oleh masyarakat, sejak di Yogyakarta melalui HIS (Hollands Indische School) sampai dengan karya terbaru di Timor Leste, Ainaro dan Becora. Entah berapa jumlah putra-putri bangsa Indonesia yang mengenyam pendidikan dan pembinaan dari para bruder FIC selama 95 tahun ini? Ada banyak yang menonjol dan mempunyai pengaruh di masyarakat dengan menduduki jabatan pemerintahan, entah menjadi Gubernur Bank Indonesia atau menteri. Semua itu membanggakan. Namun banyak juga yang bekerja sebagai masyarakat biasa, namun berdedikasi tinggi, entah sebagai katakese maupun guru di pedalaman.
Para Bruder FIC juga pantas bersyukur atas pengabdian dan pembaktian diri para bruder dalam bidang pendidikan di luar sekolah, melalui panti asuhan, pertenunan, percetakan, Pelayanan Sosial Tenaga Kerja, dan pelayanan karitatif lainnya. Semua itu merupakan perwujudan usaha menjaga warisan para pendiri.Kerasulan pendidikan dan pembinaan di luar sekolah, terutama bagi mereka yang miskin dan membutuhkan bantuan merupakan ambil bagian kita akan karya Yesus (Gereja) dan akan bermakna kalau dilandasi sikap dasar sebagai religius bruder, menempatkannya dalam terang partisipasi penyelamatan Allah, bukan semata-mata usaha kita sebagai manusia.

Tantangan dan kesulitan yang dihadapi pada hari-hari mendatang tidaklah sedikit. Entah karena terbatasnya anggota, dalam menghadirkan kasih persaudaraan melalui hidup berkomunitas, atau tantangan dalam kerasulan. Mensikapi itu semua, diminta untuk tetap mempercayakan bantuan Allah, penyelenggara kongregasi. Para Bruder FIC juga sedang menyongsong 100 tahun hadirnya FIC di Indonesia pada tahun 2020. Menatap hari-hari yang akan dilalui dengan mengingat apa yang ditulis Br. Bernardus Hoecken (Bruder pertama) menyambut 25 tahun berdirinya kongregasi. Beliau menulis, “Tuhan yang telah memulai karya ini akan menyelesaikannya juga, dan apapun kesulitan yang akan dialami oleh Kongregasi, apapun kemalangan yang akan menimpanya, janganlah putus asa, satukan doa-doa kita dengan doa-doa anak miskin itu dan kitapun akan mengalami bantuan dari Allah dan pertolongan dari Santa Perawan Maria”. Menyambut 95 tahun hadirnya FIC di Indonesia dengan sukacita, dengan penuh kegembiraan serta berkonsolidasi dari dalam komunitas, dari unit karya, dengan mengedepankan persudaraan maka cara demikian dapat menampakkan kesaksian sebagai religius yang bahagia dan berharap bisa membahagiakan sesama juga.








^:^ : IP 3.85.245.126 : 2 ms   
SMA PANGUDI LUHUR II SERVASIUS BEKASI
 © 2019  http://smaplservasius-jkt.pangudiluhur.org/